Khaled Mashal, Tokoh Hamas yang Hidup Mewah dari Penderitaan Palestina


Nama Khaled Mashal tak bisa dipisahkan dari kelompok teroris Hamas. Pasalnya, ia merupakan salah satu tokoh Hamas yang berperan besar dalam konflik antara Israel dan teroris Hamas di Gaza, Palestina. 

Khaled Mashal diketahui merupakan aktor utama yang memegang kontrol dalam setiap aksi Hamas mengganggu kedaulatan Israel. Namun, siapa sangka pria yang lahir di Silwad, bagian Utara Ramalah, Palestina, 28 Mei 1956 ini juga hidup bergelimang harta di balik penderitaan rakyat Palestina. 

Diketahui, Khaled Mashal hidup mewah di Doha, Qatar, dengan total kekayaan pribadi hasil perhitungan para analis terorisme mencapai Rp36,400 triliun (US$2,6 miliar) tahun 2020. Pendapatan Khaled Mashal terus bertambah, setiap kali muncul konflik. 

Khaled Mashal menyusun proyek agitasi, berbagai bentuk audio visual palsu, berupa derita nestapa rakyat Palestina. Masyarakat beragama Islam dari berbagai negara mengumpulkan donasi. Uangnya masuk satu pintu, yaitu Khaled Mashal. 

Uang hasil donasi kemudian dibeli senjata, biaya pelatihan militer, mendidik tenaga perakit roket dan bom, sekitar 40 persen dari dana donasi yang masuk. Sisanya, sekitar 60 persen, untuk biaya hidup bermewah-mewahan Khaled Mashal dan petinggi Hamas lainnya yang tengah berada di luar negeri. 

Hampir dibunuh

Khaled Mashal pernah akan dibunuh tahun 1997. Ini sebagai tindakan balas dendam karena Khaled Mashal mendalangi peristiwa pengeboman pasar Mahane Yehuda di Israel, yang mengakibatkan banyak warga Israel menjadi korban. Bahkan aksi rencana pembunuhan kepada Khaled Mashal oleh agen-agen Mossad hampir berhasil. 

Agen Mossad menunggu di pintu masuk Kantor Hamas di Amman, Yordania. Ketika Khaled Mashal masuk ke kantornya, salah satu agen datang dari belakang dan melekatkan perangkat khusus ke telinga kiri yang ditransmisikan racun reaksi cepat. Khaled Mashal langsung dilarikan ke rumah, karena sudah dalam keadaan sekarat. 

Berita Khaled Mashal dalam keadaan sekarat sampai ke telinga Raja Yordania, Hussein, dan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton. Perdana Menteri Israel, Benyamin Nyetanyahu, diinstruksikan, agar segera menyelamatkan nyawa Khaled Mashal. Pertimbangan Raja Hussein dan Presiden Bill Clinton, jika sampai Khaled Mashal mati, maka perdamaian di Palestina semakin sulit diwujudkan. 

Kepala Mossad, Danny Yatom, diperintahkan terbang langsung ke rumah sakit King Hussein Medical Center, Amman, Yordania. Danny Yatom menyerahkan obat penawar racun bagi Khaled Mashal. Khaled Mashal selamat dari upaya pembunuhan Mossad.

Diusir dari Yordania 

Sembuh dari sakit, Raja Hussein meminta Khaled Mashal membuat perjanjian tertulis. Isinya, kalau tetap ingin tinggal di Yordania, tidak boleh lagi terlibat dalam aktivitas Hamas. 

Bukti kesungguhan Raja Hussein, maka Yordania ikut bersama Inggris, Jerman, Jepang, Kanada, Israel, menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris sejak tahun 2009. 

Dalam perkembangannya, Khaled Mashal melanggar perjanjian, karena masih mengendalikan Hamas dari Yordania. Akibatnya, Pemerintah Yordania mengusir Khaled Mashal, sehingga sekarang menetap di Doha, Qatar. Di Qatar, Khaled Mashal menjalin hubungan dengan koalisi Bulan Sabit Syiah Iran dan Qatar. 

Hamas dan Khaled Mashal sudah di-blacklist sebagian besar negara-negara Liga Arab yang beraliran Sunni, seperti Yordania, Mesir, sampai Saudi Arabia, karena sering bikin ulah. 

Kedekatan Khaled Mashal dengan Iran, membuat Hamas semakin kuat, karena didukung roket, uang, serta jaringan militan yang didanai Iran, Rusia dan Cina. Itu sebabnya Hamas selalu bersahabat dengan Hizbullah di Libanon, karena sama-sama didanai dan dilatih oleh Iran dan Qatar. 

Tapi selain mendapat dana dari Iran, Khaled Mashal bersama Hamas menggalang dana dari donasi negara-negara Islam lainnya dengan menyebarkan propaganda kekejaman militer Israel. Walaupun tindakan Israel sering kali dipicu oleh serangan roket Hamas terlebih dulu ke wilayah Israel. Israel seperti negara lainnya pasti akan membalas semua serangan dari negara lain yang menarget penduduknya. 

Perang untuk Hidup Mewah

Di sinilah dimulai lingkaran bisnis menggiurkan Khaled Mashal bersama komplotan petinggi Hamas. Hamas serang Israel, dibalas Israel, menimbulkan korban warga sipil di Gaza meninggal dunia, dan propaganda dirancang. Donasi dari negara lain masuk. Rusia, China dan Iran, suplai rudal, dan sebagian besar uangnya masuk kantong Khaled Mashal dan pemimpin Hamas lainnya yang bermukim di luar negeri. 

Kalau kantong Khaled Mashal sudah mulai menipis, buat lagi gara-gara, roket Hamas ditembakkan ke Israel. Israel marah, dengan melakukan serangan balik, mematikan. Dunia internasional terhasut, mengecam Israel, dilakukan penggalangan dana dan kantong Khaled Mashal kembali terisi penuh, dan ini berkali-kali dilakukan, sesuai kebutuhan. 

Israel dan AS telah melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai jaringan Khaled Mashal dan Hamas. Di antaranya, Israel membuka hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Maroko, dan Saudi Arabia. Ini tentu membuat jaringan Khaled Mashal dan Hamas semakin dipersempit. 

Arab Saudi tahun 2017 mendesak Qatar, agar segera menetapkan Hamas dan ekstremis Sunni sebagai organisasi teroris. Tapi desakan Arab Saudi ditolak Qatar. Qatar sendiri sebenarnya negara yang berpijak pada dua kaki. Walaupun menjadi anggota Liga Arab, tapi Qatar sendiri dekat dengan Iran, karena walaupun mayoritas penduduk Qatar adalah Islam Sunni, para penguasa dan orang-orang kaya (para sheik) adalah kalangan Islam Syiah. 

Bahkan dari hubungan aneh Sunni dan Syiah di Qatar ini juga mempengaruhi Hamas. Yaitu saat Liga Arab yang mayoritas negara-negara Islam Sunni mengumumkan kelompok Syiah Hizbullah di Lebanon sebagai kelompok teroris, penentang terbesarnya adalah Hamas yang merupakan kelompok ektremis Sunni. 

Dari kerumitan politik di Timur Tengah inilah, Khaled Mashal mendapatkan keuntungan besar dan bisa hidup mewah di Qatar. Dari Doha, Qatar, Khaled Mashal mendapatkan duit dari Iran, Rusia dan Cina, sekaligus dari negara-negara Islam lainnya. Di antaranya dari Indonesia yang penduduknya banyak tidak mengerti kerumitan politik di Timur Tegah, tapi dengan lugunya selalu berdonasi dan membela mati-matian Hamas, atas nama perjuangan Palestina melawan penjajahan Israel. 

Di Indonesia, masyarakat ditipu persepsi Hamas berjuang demi kepentingan Islam. Padahal Hamas hanya organisasi teroris yang menghambat kemerdekaan Palestina.

Related

News 8386758002136644459

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item